BG 02

Selamat Datang di Website Resmi Pengadilan Tinggi Agama Palu Sulawesi Tengah. Jam Pelayanan Senin-Kamis : 08.00-16.30 WITA, Jum'at : 08.00-17.00 WITA. Jika Menemukan Suatu Pelanggaran Silakan Melaporkan Melalui Link ini: Pengaduan Online PTA. Palu

slide

MAKLUMAT PTA PALU

laporkan baru

CORONA MAHKAMAH AGUNG

Written by Super User on . Hits: 154

MUHAMMAD YANG MEMBUMI

Oleh Iin Maghfirah, S. TH.I.

Kasubag Kepegawaian Dan TI PTA. Palu

Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Muhammad, Biografi Sang Nabi memaparkanbahwasanya Arab abad ke 7, ketika Muhammad lahir bukanlah sebuah negeri padang pasir tandus, miskin dan jauh dari peradaban sebagaimana yang sering kita asumsikan selama ini.

Muhammad lahir dalam konteks masyarakat Arab yang memiliki peradaban maju di mana pertumbuhan ekonomi mereka mengalami kemajuan pesat. Hanya saja, menurut Armstrong, kemajuan ekonomi tersebut justru menjerumuskan mereka dalam sistem kapitalistik yang menggusur masyarakat marjinal dalam jurang kemiskinan.

Dalam hal ini, praktek riba dan menimbun barang sebagaimana yang dipaparkan al-Quran dalam beberapa ayatnya menggambarkan hal tersebut. Praktek yang dalam tataran realitas justru banyak menciptakan berbagai permasalahan sosial akut pada arab abad ke 7.

Selain tatanan masyarakat yang kapitalis, hal lain yang menjadi permasalahan serius saat itu adalah sistem masyarakat Arab yang melegalkan perbudakan. Sebuah sistem yang mereduksi peran manusia - baik laki-laki maupun perempuan yang terlahir sebagai budak – dalam mewujudkan kualitas kemanusiaannya.

Dalam konteks sosial masyarakat seperti itulah Muhammad lahir kemudian diutus sebagai pembawa risalah (baca: islam) guna mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi tatanan sosial masyarakat Arab tersebut.

Islam Sebagai Ajaran Teologis Transenden dan Sosiologis Humanitas.

Dalam upayanya melakukan reformasi sosial pada masyarakat Arab, Muhammad mengaplikasikan islam tidak semata-mata sebagai ajaran yang bersifat teologis transenden tetapi juga menitikberatkan islam sebagai ajaran yang bersifat sosiologis humanitas. Keduanya merupakan entitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ibarat sekeping mata uang logam yang kedua permukaannya menyatu dalam satu kesatuan yang kokoh.

Di satu sisi, ajaran teologis transenden yang bertumpu pada konsep tauhid menjadi landasan spiritual umat islam guna mewujudkan integritas personal sehingga dalam pengalaman hidup sehari-hari tidak mudah goyah oleh berbagai godaan duniawi yang tak pernah berhenti dihembuskan oleh iblis, sang penggoda.

Senjata tauhid ini pula yang mampu menangkis serangan kaum kafir Quraisy ketika mereka menawarkan uang, jabatan bahkan kerajaan kepada Muhammad untuk ditukarkan dengan islam.

Di sisi lain, ajaran sosiologis humanitas yang bertumpu pada konsep amalun sholihun (berbuat baik pada sesama), menjadi landasan perilaku umat islam guna mewujudkan tatanan masyarakat yang egaliter dan berkeadilan sosial.

Dalam konteks ini, perintah al-Qur’an untuk mengeluarkan zakat dan sedekah maupun larangan untuk menimbun barang dimaksudkan agar distribusi kekayaan dapat merata bagi seluruh anggota masyarakat sehingga mampu menutup jurang antara kaya dan miskin.

Demikian halnya, perintah al-Qur’an untuk membebaskan budak sebagai tebusan ketika seseorang melakukan pelanggaran agama dimaksudkan untuk menghilangkan praktek perbudakan yang tumbuh subur saat itu.

Terkait hal tersebut di atas, jika kita merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an, maka kita akan menemukan bahwa kedua hal tersebut selalu disebutkan bersamaan. Perintah untuk beriman kepada Tuhan selalu dibarengi dengan perintah untuk berbuat kebaikan.( lihat al-Baqarah 62, 177, al-„Ashr 3, at-Tiin 6, al-Hadid 7, al-Bayyinah 7).

Muhammad sendiri sebagai panutan bagi umat islam, mengaplikasikan kedua hal tersebut dalam setiap jengkal perjalanan hidupnya.

Dalam banyak karya yang mengulas sejarah hidup Muhammad, kita akan menemukan kualitas-kualitas terbaik dari kepribadian seorang Muhammad. Karen Armstrong misalnya menggambarkan sosok Muhammad sebagai seseorang yang sangat taat beribadah sekaligus sangat dermawan kepada fakir miskin. Armstrong mencontohkan ketika Muhammad menjadi sayyid yang paling berkuasa di Arabia, Muhammad membenci kemewahan dan sering tidak ada makanan di rumahnya. Muhammad tidak pernah memiliki lebih dari satu stel pakaian sekaligus dan ketika sebagian sahabatnya mendesak dia untuk mengenakan pakaian yang lebih mewah, Muhammad selalu menolak. Dia lebih suka mengenakan pakaian jubah tebal dan kasar yang dikenakan oleh kebanyakan orang. Demikian halnya, ketika dia menerima hadiah atau hartarampasan, dia memberikannya kepada kaum fakir miskin.

Muhammad dengan kualitas kepribadiannya yang luar biasa ingin memberikan contoh pada pengikutnya bahwa islam adalah ajaran yang tidak melulu bersifat transenden, vertikal , namun islam juga agama yang membumi, peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan, menentang ketidakadilan dan eksploitasi.

Dengan bertumpu pada kedua hal tersebut jua Muhammad mampu melakukan reformasi terhadap tatanan sosial masyarakat Arab yang rusak parah sehingga terwujudlah sebuah masyarakat madani yang berasaskan pada semangat egaliter dan kemanusiaan.

Dalam konteks inilah seharusnya kita memaknai hari kelahiran (maulid) sang Nabi, Muhammad SAW. Khususnya dalam kondisi bumi pertiwi yang tak pernah berhenti berurai air mata duka oleh karena keadaan sosial, ekonomi, politik yang tak jua mengentaskan rakyat dari kemiskinan, penindasan, bahkan perbudakan. Suatu kondisi yang secara substansial tidak jauh berbeda dengan Arab jahiliyah.

Kiranya perayaan maulid ini menjadi ajang refleksi bagi kita semua, khususnya bagi para pemimpin bangsa, jangan-jangan kondisi nestapa ini bersumber dari perilaku kita yang terjebak pada ritual-ritual agama yang kering, terpenjara dalam kungkungan formalisme agama yang dangkal, lupa pada satu ajaran islam yang sosiologis humanitas.

Semoga pada hari kelahirannya ini, spirit ilahi yang transenden sekaligus spirit humanitas yang menghiasi kepribadian seorang Muhammad “lahir” kembali dan “membumi” dalam diri kita semua sehingga kita mampu meletakkan kembali islam sebagai entitas yang membebaskan manusia dari segala bentuk kekerasan maupun penindasan. Amin!.

Penulis bekerja di PTA. Palu

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Mahkamah Agung Edisi Perdana

PETA LOKASI KANTOR

Hubungi Kami

Silahkan Hubungi Pengadilan Tinggi Agama Palu, Kami Siap Melayani Anda.

Telpon : (0451) 487285

Fax: (0451) 487284

Website : www.pta-palu.go.id

Alamat : Jln. Prof. Moh. Yamin, No. 36 Palu

JAM PELAYANAN

Senin - Kamis :  08.00 - 16.30 WITA
Istirahat :  12.00 - 13.00 WITA
Jumat :  08.00 - 17.00 WITA
Istirahat :  11.30 - 13.00 WITA

iconfinder Facebook UI 03 2344286 pngfind.com yelp icon png 60785ayt1 tw 

 

cctv ptapalu